Posts

Showing posts from April, 2025

Moderasi Kata Benda Berfungsi Sifat

 EndyNU Moderasi adalah sebuah kata yang pada dasarnya merupakan kata benda, namun memiliki nuansa sifat yang sangat kental dalam penggunaannya sehari-hari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, moderasi diartikan sebagai penghindaran dari segala bentuk ekstrem atau berlebihan. Ini bukan sekadar istilah abstrak, tetapi mengandung nilai-nilai yang dapat membentuk watak, karakter, dan sikap seseorang dalam bertindak maupun berpikir. Ketika seseorang disebut sebagai pribadi yang moderat, maka yang dimaksud bukan sekadar identitas statis, melainkan karakter aktif yang senantiasa menjaga keseimbangan, keterbukaan, dan toleransi dalam menghadapi keberagaman. Dalam konteks ini, moderasi lebih dari sekadar kata benda—ia menjadi sifat atau karakter yang menjiwai tindakan dan pilihan hidup individu. Dalam masyarakat multikultural seperti Indonesia, moderasi menjadi sangat penting. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kepentingan, latar belakang, dan pandangan hidup yang berbeda. Seo...

Sejatinya Moderasi

 EndyNU Sejatinya, moderasi beragama merupakan manifestasi dari ajaran agama yang sesungguhnya, yang mengedepankan keseimbangan, toleransi, dan kedamaian dalam menjalankan keyakinan. Konsep ini bukanlah bentuk kompromi terhadap kebenaran agama, melainkan pendekatan bijak yang memungkinkan kehidupan beragama berlangsung harmonis di tengah masyarakat yang majemuk. Dalam konteks ini, moderasi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan sosial dan spiritual di tengah kompleksitas zaman. Moderasi beragama muncul dari kesadaran bahwa keberagaman adalah fitrah manusia. Dalam masyarakat seperti Indonesia yang terdiri dari berbagai agama, suku, dan budaya, moderasi menjadi fondasi kokoh dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Ia mengajarkan bahwa keyakinan pribadi tidak harus menjadi alat untuk menyalahkan atau merendahkan pihak lain. Sebaliknya, keyakinan yang kuat justru bisa menjadi sumber empati dan keterbukaan terhadap perbedaan. Nilai-nilai seperti tawassuth (berkeseimbangan), tas...

Moderasi Proyek Diskursif

 EndyNU Moderasi sebagai proyek diskursif merupakan sebuah pendekatan yang menempatkan nilai-nilai keseimbangan, toleransi, dan keadilan dalam ruang diskursus publik, baik dalam konteks keagamaan, sosial, maupun politik. Dalam pandangan ini, moderasi tidak sekadar sikap personal yang menolak ekstremisme, melainkan suatu upaya kolektif yang dikonstruksi dan diproduksi melalui percakapan, wacana, dan institusi. Moderasi menjadi arena di mana berbagai pandangan direproduksi, dinegosiasikan, dan dipertarungkan untuk menentukan batas-batas kewajaran dalam masyarakat plural. Dalam konteks Indonesia, moderasi bukan hanya wacana kontemporer, tetapi juga cerminan dari nilai-nilai historis yang mengakar dalam tradisi lokal. Pancasila sebagai ideologi negara, semboyan Bhinneka Tunggal Ika, serta pengalaman panjang bangsa ini dalam menyatukan keragaman etnis, agama, dan budaya menjadi landasan epistemologis bagi lahirnya proyek moderasi sebagai sebuah upaya menjaga kohesi sosial. Namun, proyek...

NgopiNU Pergerakan Indonesia

 NgopiNU Pergerakan Indonesia Zaenuddin Endy NgopiNU, yang merupakan singkatan dari Ngobrol Pergerakan Indonesia dan NU, telah menjadi istilah yang populer di kalangan kader-kader Nahdlatul Ulama (NU). Istilah ini berawal dari sebuah tradisi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, yakni ngopi. NgopiNU tidak hanya sekadar tentang minuman kopi, melainkan sebuah wadah untuk berdiskusi, merencanakan, dan membahas berbagai persoalan terkait pergerakan Indonesia dan peran NU di dalamnya. Dalam setiap perbincangan yang berlangsung, selalu ada semangat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang telah lama dipegang oleh NU, sembari merumuskan langkah-langkah konkret untuk masa depan. Sebagai sebuah istilah yang berkembang dalam ruang pergerakan, NgopiNU menggambarkan suasana yang lebih santai namun penuh makna. Biasanya, para kader NU yang ingin membicarakan berbagai isu seputar Indonesia dan NU, memilih warkop (warung kopi) sebagai tempat untuk berkumpul. Di t...

Kuatkan Silaturahim dan Ghirah PMII

 Kuatkan Silaturahim dan Ghirah PMII Zaenuddin Endy Dalam memperingati Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ke-65, semangat yang harus senantiasa digelorakan adalah pentingnya menjalin dan menguatkan tali silaturahim antar kader, alumni, dan seluruh simpatisan PMII di berbagai penjuru tanah air. Silaturahim bukan sekadar agenda seremonial atau formalitas belaka, melainkan ruh dari kekuatan sosial yang mampu merekatkan semua elemen gerakan dalam satu visi perjuangan. PMII bukan hanya organisasi kemahasiswaan, tetapi juga ruang kaderisasi dan perjuangan ideologis yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Dalam perjalanan 65 tahun ini, banyak tantangan yang datang silih berganti, namun kekuatan solidaritas dan jaringan silaturahim menjadi penyangga utama keberlanjutan gerakan. Oleh karena itu, momen harlah harus dimaknai sebagai titik temu untuk mempererat kembali persaudaraan dan memperkuat basis komunikasi antar kad...

Kepemimpinan Dalam Lontarak Bugis

 Kepemimpinan Dalam Lontarak Bugis Oleh:Zaenuddin Endy *Direktur Pangadereng Institut (PADI)* Prinsip kepemimpinan dalam Lontarak Bugis merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur dalam mengelola pemerintahan dan kehidupan sosial. Dalam tradisi Bugis, kepemimpinan bukan hanya sekadar kekuasaan, tetapi juga tanggung jawab moral yang harus dijalankan dengan kebijaksanaan dan keadilan. Pemimpin yang ideal dalam pandangan Bugis adalah seseorang yang mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan rakyat dan kewajibannya terhadap nilai-nilai adat serta agama. Salah satu konsep utama dalam kepemimpinan Bugis adalah "pangadereng," yaitu sistem norma yang mengatur kehidupan masyarakat, termasuk dalam aspek kepemimpinan. Pangadereng mencakup lima elemen utama: ade’ (adat), bicara (hukum), rapang (preseden atau contoh baik), wari (aturan keturunan), dan sara’ (syariat Islam). Seorang pemimpin harus memahami dan menerapkan kelima unsur ini agar dapat menjaga harmoni dan sta...

Kepemimpinan Dalam Lontara' Gowa-Tallo

 Kepemimpinan Dalam Lontara' Gowa-Tallo Oleh: Zaenuddin Endy *Direktur Pangadereng Institut (PADI)* Prinsip kepemimpinan dalam Lontara' Gowa-Tallo menggambarkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Makassar sejak zaman dahulu. Prinsip ini menjadi pedoman bagi para pemimpin dalam menjalankan tugasnya demi kemaslahatan rakyat dan kerajaan. Salah satu konsep utama dalam kepemimpinan ini adalah "Tallu Tongi Rupanna Panggaukang ri Se'rea Tumapparenta Angngerang Kapanrakang," yang menegaskan tiga bentuk perbuatan pemimpin yang dapat membawa kerusakan dalam pemerintahan. Prinsip pertama yang disebutkan dalam Lontara' Gowa-Tallo adalah "Punna Addanggangmo Tumapparentaaya," yang berarti bahwa seorang pemimpin tidak boleh terlibat dalam perdagangan. Pemimpin yang terlibat dalam perdagangan berpotensi untuk mengabaikan kepentingan rakyatnya demi keuntungan pribadi. Keputusan yang diambil bisa menjadi bias karena lebih mementingkan aspek ekono...

Kartini dan PMII

 Kartini dan PMII Oleh:Zaenuddin Endy PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sebagai organisasi kemahasiswaan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan memiliki keterkaitan historis dan ideologis dengan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Dalam konteks Hari Kartini yang diperingati setiap 21 April, PMII tidak hanya mengenang jasa-jasa Raden Ajeng Kartini, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai perjuangannya dalam membangun kesadaran kritis kaum perempuan, khususnya dalam dunia pendidikan dan pergerakan. Kartini menjadi simbol perjuangan perempuan Indonesia dalam menuntut hak pendidikan dan kesetaraan sosial pada masa kolonial yang sarat dengan ketimpangan gender. PMII, yang lahir dari rahim pesantren dan kampus, menginternalisasi semangat ini dalam setiap aktivitas kaderisasinya. Perempuan dalam PMII bukan hanya objek dari gerakan, tetapi menjadi subjek aktif dalam mengartikulasikan perubahan sosial, keumatan, dan kebangsaan. Dalam tubuh PMII, Kartini tid...

Kartini dan Santri Pesantren

 Kartini dan Santri Pesantren Oleh:Zaenuddin Endy Kartini dan santri pesantren memiliki titik temu yang dalam dalam konteks perjuangan pendidikan, keadaban, dan kesetaraan. Kartini adalah sosok yang melampaui zamannya, memperjuangkan hak perempuan untuk mengenyam pendidikan di tengah budaya patriarki dan kungkungan kolonial. Semangat Kartini ini sejatinya juga hidup dalam tradisi pesantren, terutama dalam nilai keikhlasan mencari ilmu, kesederhanaan hidup, dan keberanian berpikir kritis dalam batas adab. Sebagai santri kultural, Kartini sangat menghargai nilai-nilai keislaman. Dalam surat-suratnya, ia menyinggung soal keinginannya memahami agama secara lebih mendalam, tidak sekadar secara tekstual, tetapi juga secara rasional dan spiritual. Hal ini menggambarkan bahwa Kartini tidak anti terhadap agama, justru ingin menggali Islam dalam wajahnya yang memuliakan perempuan dan menjunjung ilmu pengetahuan. Pandangan ini sejalan dengan semangat pesantren yang memadukan ilmu lahir dan ba...

Kartini Emansipasi atau Ilusi

 Kartini Emansipasi atau Ilusi Oleh:Zaenuddin Endy Habis gelap, belum tentu terang. Kalimat ini, sebagai adaptasi dari judul terkenal “Habis Gelap Terbitlah Terang” karya R.A. Kartini, menjadi pembuka untuk meninjau kembali warisan pemikiran emansipasi dalam kerangka kolonialisme. Kartini, yang sering dijadikan simbol perjuangan perempuan Indonesia, hidup dalam dunia yang dikungkung oleh struktur patriarki lokal dan hegemoni kolonial Belanda. Ia menulis dengan penuh semangat tentang pendidikan dan hak-hak perempuan, namun gagasannya tersebar melalui kanal-kanal penjajahan yang kerap memuat ambiguitas. Dalam cahaya yang dipinjamkan oleh penjajah, perjuangan Kartini bisa jadi lebih merefleksikan ilusi daripada revolusi. Kita mengenal Kartini lewat surat-suratnya yang dikumpulkan dalam “Door Duisternis tot Licht”—yang kemudian diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Namun, siapa yang menerbitkan surat-surat itu? Adalah J.H. Abendanon, seorang pejabat kolonial Belanda, ya...

Tuhan Kita Sama

 EndyNU Tuhan Kita Sama Tuhan kita satu, meski nama-Nya beragam, Diseru di gereja, sinagog, pura dan masjid yang damai tenang. Langit tak membedakan doa yang melangit, Karena kasih-Nya melingkupi semesta, tak terbatas langit-bumi. Tak usah kau tanya, “Tuhan siapa yang benar?” Karena Ia tak butuh dibela, hanya dimaknai dalam sabar. Ia hadir dalam iman yang jujur dan amal yang ikhlas, Dalam kasih sayang yang tak memandang batas. Di Al-Baqarah firman-Nya bersinar terang: Yahudi, Nasrani, Shabi’in yang beriman dan berbuat baik Pahala menanti, tak takut, tak bersedih, Itu janji-Nya yang tak pernah berpaling dari baik. Al-Hajj pun mengulang pesan kasih, Majusi, mukmin, hingga musyrik pun akan disidang bersih. Tak satu pun terlewat dari penglihatan-Nya, Karena Tuhan melihat hati, bukan sekadar nama. Kita manusia, bukan hakim akhir zaman, Hanya hamba, bukan pemegang keputusan Tuhan. Mengapa memecah, bila bisa menyatu? Mengapa membenci, bila cinta lebih bermutu? Tuhan kita sama, dalam cinta...

Abbulosibatang Tanah Sinjai

 EndyNU Abbulosibatang Tanah Sinjai Di tanah Sinjai, harum sejarah bersemayam, Tersimpan adat, tradisi tak lekang dimakan malam. Abbulosibatang, nama yang menggema di relung nurani, Pemersatu batang yang patah, pelipur luka di bumi pertiwi. Dalam tudang sipulung, lidah bersuara jujur, Dendam luruh, amarah menjadi gugur. Tak ada palu menghukum, tak ada jeruji besi, Hanya maaf yang mengalir, dalam damai yang abadi. Duduk bersila, bersanding hati dan nurani, Tokoh adat menenun tenang di sela-sela sunyi. Tak ada yang tinggi, tak ada yang rendah, Semua bersatu demi ikatan yang tak patah. Doa-doa dilangitkan, leluhur disapa lembut, Simbol-simbol adat jadi saksi bisu yang kalut. Roh kebaikan memeluk tiap kata yang terucap, Dalam lingkaran adat, luka sosial pun lenyap. Tak hanya adat, tapi keadilan yang tumbuh, Restoratif dalam makna, bukan sekadar sembuh. Hubungan diperbaiki, bukan dibalas dendam, Dalam ikhlas, kasih pun kembali menyiram. Lelaki tua penengah, wajah penuh cahaya, Ucapanny...

Kepala Kambing Sajian Kehormatan

 EndyNU *Kepala Kambing Sajian Kehormatan* Di atas nampan perak beralas doa, terhidang kepala sang kambing tua, bukan sekadar daging dan rupa, melainkan makna yang sarat makna. Dari tebing-tebing sunyi pengorbanan, mengalir kisah ketaatan dan keikhlasan, dalam diam, ia bersyahadat di sembelihan, menghadap Tuhan dengan penuh kerelaan. Kepala, pusat segala arah, tempat niat dan akal berpaut indah, dihidangkan bukan untuk gagah-gagahan, melainkan simbol dari penghormatan. Dalam asap gulai dan aroma rempah, tersemat sabar, cinta, dan berkah, tangan-tangan yang mengolah penuh cinta, seperti ibadah yang tak kasat mata. Ia hadir dalam syukuran dan aqiqah, dalam sujud haji yang penuh berkah, mengingatkan manusia akan asal muasal, tentang fana, tentang hal yang kekal. Mata yang telah terpejam tenang, lidah yang dulu mengembik terang, semua kini jadi santapan malam, menyatukan hati yang terpisah ruang. Di balik tulangnya, tersembunyi pesan, tentang kepemimpinan, tentang keimanan, kepala yang...

Jejak Maya Di Tanah Sidrap

 EndyNU Jejak Maya di Tanah Sidrap Di ujung sinyal yang tak kasat mata, tersimpan dusta dalam rupa kata. Janji manis menari di layar kaca, membius hati yang percaya. Mereka datang tanpa wajah, menyamar dalam bayang gawai, menjual mimpi, menabur gelisah, lalu pergi tak menoleh sekali. Sidrap menangis dalam diam, namanya tercemar oleh kelam. Anak negerinya pun dirundung muram, terjebak dalam jaring tipu yang dalam. Hukum menjejak, tapi tak cukup, luka korban tak mudah terobat. Kesadaran harus dijemput, agar tak makin banyak yang terjerat. Wahai rakyat Sidrap yang tabah, bangkitlah dari kabut resah. Belajar dari luka dan sejarah, agar masa depan tak lagi pasrah. Mari bersama merajut cahaya, dari layar yang dulu membawa duka. Bersatu, waspada, jangan percaya, pada janji palsu di dunia maya. Bimbinglah generasi digital, agar cerdas memilah sinyal. Tak semua pesan bersifat netral, ada yang datang dengan niat kriminal. Pada platform dan pemilik kuasa, jangan biarkan dusta merajalela. Tutu...

Menggigil Dalam Sunyi

 EndyNU *Menggigil dalam Sunyi* Menggigil aku di sudut sepi, sendiri menantang dingin yang lirih, tubuh rapuh dilanda demam, flu mengalir seperti rintik malam. Kopi hitam mengepul di cangkir luka, asap rokok menari bersama duka, hangatnya tak jua menembus tulang-tulang yang mulai kelu dan lemas. Hidung mampet, kepala berat, tapi sunyi jauh lebih sesak daripada napas yang tersendat, atau dada yang ikut merapat. Gemetar bukan karena suhu semata, melainkan karena rindu yang tak ada, karena peluk yang hanya bayang, karena cinta yang menghilang. Kupeluk diri dalam kabut tipis antara sadar dan mimpi manis, tak ada yang datang, hanya batuk dan malam panjang. Menggigil, aku terus bertahan, bersama kopi, rokok, dan kesepian. Jendela berembun menatap iba Langitpun enggan bicara apa-apa

Toami Ramang

 EndyNU *Toami Ramang* Di ujung senja tanah Bugis bersinar, terdengar bisik angin yang pelan bergetar. Menyebut nama yang tak lekang ditelan zaman, Ramang—sang legenda, telah lama berpulang ke keabadian. Namun di setiap lelaki yang rambutnya memutih, yang langkahnya perlahan, namun jiwanya bersih, tersemat satu sebutan penuh hormat dan sayang: “Toami Ramang,” panggilan untuk mereka yang dikenang. Bukan sekadar lelaki tua di sudut warung kopi, mereka adalah kisah, adalah nyala api. Menjadi Toami Ramang, bukan hanya soal usia, tapi tentang warisan, tentang jiwa yang tak sirna. Ramang telah pergi, tapi namanya tak mati, hidup di dada-dada lelaki yang menyepi. Yang matanya menatap jauh menembus waktu, mengingat sepak bola, kampung, dan langit biru. Toami Ramang—mereka yang membawa bayang, dari legenda yang kini jadi bagian orang-orang. Mereka berjalan dengan diam yang dalam, membawa Ramang di tiap langkah yang tenang. Sebab menjadi Toami Ramang adalah anugerah, menjadi saksi hidup dari...

Ditemani Kopi Hangat

 EndyNU Ditemani Kopi Hangat Kala fajar perlahan menyingsing, Langit memerah di ujung malam yang hening. Embun masih menari di pucuk dedaunan, Udara menggigit, menusuk tulang dan perasaan. Kugenggam erat secangkir kopi hangat, Uapnya menari, menyapa wajah penat. Dalam diam, aroma menyeruak perlahan, Membelai jiwa, membangunkan harapan. Tubuh menggigil, dingin menjalar, Namun kopi ini—hangatnya tak sekadar. Ia menyalakan bara di dada yang beku, Mengalirkan tenang, membangkitkan rindu. Di antara sepi dan desir angin pagi, Kopi menjadi teman sejati. Bukan hanya pemecah sunyi, Tapi pelipur dalam hati yang sunyi. Saat cahaya mulai mengintip bumi, Kopi masih setia di sisi. Hangatnya tak hanya di telapak tangan, Tapi di relung hati yang tengah kesepian. Begitulah aku menyambut pagi, Ditemani kopi, bukan sekadar tradisi. Tapi sebuah janji, Bahwa hari bisa dimulai dengan kopi dan puisi.

Khutbah Idulfitri

 Khutbah I ‎اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ ‎اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْن...

Menyonsong Harlah PMII 17 April 2025 : PMII Penggerak NU

 Menyonsong Harlah PMII 17 April 2025 : PMII Penggerak NU Oleh:Zaenuddin Endy Wakil Sekretaris PW IKA PMII Sulawesi Selatan Menyonsong Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-65 pada 17 April 2025, kita diajak untuk merenungi kembali jati diri dan peran strategis PMII dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU). PMII bukan sekadar organisasi kemahasiswaan biasa. Ia adalah anak kandung NU, lahir dari rahim perjuangan para kiai dan santri untuk melanjutkan estafet dakwah dan pemikiran Ahlussunnah wal Jamaah di tengah dinamika kehidupan modern. Sebagai anak kandung, sudah menjadi kodrat PMII untuk merawat, menjaga, dan menggerakkan NU sebagai wujud cinta dan tanggung jawab moral. Sejak kelahirannya pada tahun 1960, PMII telah memantapkan dirinya sebagai kaderisasi intelektual yang tak hanya piawai dalam diskusi ilmiah, tetapi juga terjun langsung ke medan sosial dan kebangsaan. PMII tidak hadir untuk duduk manis di dalam ruang seminar atau sekadar eksis secara simbolik. Ia hadi...

Menelusuri Jejak Leluhur:La Rappe Gella Panreng

 Menelusuri Jejak Leluhur :La Rappe Gella Panreng Oleh:Zaenuddin Endy *Direktur Pangadereng Institut (PADI)* La Rappe Gella Panreng adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Bone. Ia dikenal sebagai tangan kanan Petta Mangkau ri Bone, seorang pemimpin yang memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas dan kejayaan kerajaan. Keberanian, kebijaksanaan, dan kesetiaan La Rappe Gella Panreng menjadikannya sosok yang disegani oleh rakyat Bone serta dihormati oleh para pemimpin kerajaan. Sebagai seorang bangsawan yang berpengaruh, La Rappe Gella Panreng tidak hanya dikenal karena kehebatannya dalam strategi dan peperangan, tetapi juga karena kebijaksanaannya dalam menjalankan pemerintahan. Ia memahami bahwa sebuah kerajaan yang kuat harus didasarkan pada keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Oleh karena itu, ia sering menjadi penasihat utama bagi raja dalam berbagai keputusan politik dan militer. La Rappe Gella Panreng juga dikenal sebagai ayah dari Arung Ponre Anreguru Semma Dg...

Sowan Orangtua

 EndyNU *Sowan Orangtua* Berangkat dari kampung Pompanua Riattang, kami sekeluarga memulai perjalanan menuju kampung halaman di Dekko Bakunge, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Pagi itu, suasana terasa tenang, udara segar menyelimuti perkampungan. Kami berangkat dengan hati penuh harap, ingin segera bertemu dengan ayah tercinta yang kini sudah berusia sekitar 110 tahun. Mobil melaju pelan melewati jalanan yang sudah akrab bagi kami. Sepanjang perjalanan, pemandangan sawah yang menghijau dan pepohonan rindang menemani perjalanan kami. Beberapa desa kami lewati, setiap sudutnya menyimpan kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Setiap kali melewati tempat-tempat yang dulu sering kami singgahi, hati ini terasa hangat mengenang masa-masa itu. Sesampainya di jalan berbatu yang mulai menandakan bahwa kampung halaman semakin dekat, kami semakin tak sabar. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Kami ingin mengobati rindu, ingin melihat wajah ayah yang s...

Taretta

 EndyNU Kenangan Taretta  Taretta, sebuah tempat kecil di Mompatu, Amali, Bone, menyimpan pesona tersendiri bagi siapa pun yang berkunjung. Bagi keluarga istri saya, tempat ini bukan sekadar destinasi, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Setiap kali kami berkunjung ke sana, nuansa kekeluargaan dan kehangatan selalu terasa begitu erat. Kami tiba di rumah keluarga yang menjadi tempat istirahat selama kunjungan. Suasana kampung yang tenang, dikelilingi pepohonan hijau, membuat hati terasa lebih damai. Setelah perjalanan yang cukup panjang, keluarga memutuskan untuk menikmati segarnya permandian alami di Taretta, sebuah sumber mata air (wae uttang) jernih yang tidak jauh dari rumah. Saya, di sisi lain, memilih untuk tetap tinggal dan menikmati secangkir kopi yang telah disajikan. Kopi di tempat ini memang memiliki cita rasa khas. Ada beberapa jenis minuman yang tersedia, tetapi kopi tetap menjadi pilihan utama saya. Mungkin karen...