Taretta

 EndyNU

Kenangan Taretta 


Taretta, sebuah tempat kecil di Mompatu, Amali, Bone, menyimpan pesona tersendiri bagi siapa pun yang berkunjung. Bagi keluarga istri saya, tempat ini bukan sekadar destinasi, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Setiap kali kami berkunjung ke sana, nuansa kekeluargaan dan kehangatan selalu terasa begitu erat.


Kami tiba di rumah keluarga yang menjadi tempat istirahat selama kunjungan. Suasana kampung yang tenang, dikelilingi pepohonan hijau, membuat hati terasa lebih damai. Setelah perjalanan yang cukup panjang, keluarga memutuskan untuk menikmati segarnya permandian alami di Taretta, sebuah sumber mata air (wae uttang) jernih yang tidak jauh dari rumah. Saya, di sisi lain, memilih untuk tetap tinggal dan menikmati secangkir kopi yang telah disajikan.


Kopi di tempat ini memang memiliki cita rasa khas. Ada beberapa jenis minuman yang tersedia, tetapi kopi tetap menjadi pilihan utama saya. Mungkin karena aromanya yang kuat dan rasa pahit yang menggugah, atau mungkin karena ia menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat yang sulit dilepaskan. Duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi, saya menikmati suasana desa yang sunyi dan penuh ketenangan.


Saat menikmati kopi, pikiran saya kembali melayang ke beberapa tahun lalu, tepatnya tiga hari setelah pernikahan kami. Saat itu, saya dan keluarga istri melakukan ziarah ke makam Petta Amali, leluhur yang dihormati oleh masyarakat setempat. Perjalanan itu bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk penghormatan dan permohonan restu kepada leluhur.


Konon, jika seseorang datang ke makam Petta Amali dengan hati yang tidak nyaman atau niat yang tidak baik, ia akan mengalami maling-maling atau pusing, dan sulit menemukan makam tersebut. Cerita ini sudah lama beredar di kalangan masyarakat, dan entah bagaimana, selalu ada kisah yang memperkuat kepercayaan ini. Saya sendiri mengalami ketenangan luar biasa saat berziarah ke sana.


Ziarah ke makam Petta Amali menjadi agenda tahunan bagi keluarga. Selain itu, tradisi ini juga dilakukan sebelum dan setelah mengadakan kegiatan besar, seperti pernikahan atau acara penting lainnya. Bagi mereka, ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus cara menjaga keseimbangan spiritual dalam kehidupan.


Setelah beberapa saat merenung, keluarga pun kembali dari permandian. Wajah mereka terlihat segar, dengan senyum yang merekah. Mereka bercerita tentang betapa segarnya air di sana, begitu jernih hingga dasar kolam terlihat jelas. Anak-anak bermain riang, sementara orang tua menikmati kehangatan sinar matahari yang menyusup di antara dedaunan.


Saya hanya tersenyum mendengar cerita mereka. Meskipun tidak ikut merasakan segarnya air Taretta, saya menikmati momen kecil ini. Kebersamaan dengan keluarga dan tradisi yang terus dijaga adalah hal yang berharga, yang membuat perjalanan ini lebih bermakna.


Kunjungan ke Taretta bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah pengalaman yang mengajarkan tentang nilai keluarga, tradisi, dan bagaimana alam bisa menjadi bagian dari kehidupan yang lebih dalam. Mungkin lain kali, saya akan ikut merasakan segarnya air permandian Taretta, tetapi untuk saat ini, menikmati kopi dan kebersamaan sudah lebih dari cukup.

Comments

Popular posts from this blog

Penguatan Harakah, Fikrah, dan Amaliyah NU

Fokus Urus Jabatan Vs Organisasi

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum: Menuju Pendidikan Islam yang Holistik