Kepala Kambing Sajian Kehormatan

 EndyNU


*Kepala Kambing Sajian Kehormatan*


Di atas nampan perak beralas doa,

terhidang kepala sang kambing tua,

bukan sekadar daging dan rupa,

melainkan makna yang sarat makna.


Dari tebing-tebing sunyi pengorbanan,

mengalir kisah ketaatan dan keikhlasan,

dalam diam, ia bersyahadat di sembelihan,

menghadap Tuhan dengan penuh kerelaan.


Kepala, pusat segala arah,

tempat niat dan akal berpaut indah,

dihidangkan bukan untuk gagah-gagahan,

melainkan simbol dari penghormatan.


Dalam asap gulai dan aroma rempah,

tersemat sabar, cinta, dan berkah,

tangan-tangan yang mengolah penuh cinta,

seperti ibadah yang tak kasat mata.


Ia hadir dalam syukuran dan aqiqah,

dalam sujud haji yang penuh berkah,

mengingatkan manusia akan asal muasal,

tentang fana, tentang hal yang kekal.


Mata yang telah terpejam tenang,

lidah yang dulu mengembik terang,

semua kini jadi santapan malam,

menyatukan hati yang terpisah ruang.


Di balik tulangnya, tersembunyi pesan,

tentang kepemimpinan, tentang keimanan,

kepala yang dulu menuntun langkah,

kini diam dalam hikmah dan berkah.


Maka tak heran ia dijadikan utama,

bagi tamu, bagi jiwa-jiwa yang mulia,

karena setiap guratnya adalah cerita,

tentang takwa, tentang cinta manusia.


Kepala kambing, bukan sekadar santapan,

melainkan warisan budaya dan keimanan,

hidup dalam piring, mati dalam makna,

antara langit, bumi, dan rasa syahdu yang nyata.


Begitulah ia, tak sekadar makanan,

namun pesan dalam bentuk sajian,

di setiap acara suci dan keagamaan,

ia hadir—sebagai lambang pengorbanan.

Comments

Popular posts from this blog

Penguatan Harakah, Fikrah, dan Amaliyah NU

Fokus Urus Jabatan Vs Organisasi

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum: Menuju Pendidikan Islam yang Holistik