Kepemimpinan Dalam Lontara' Gowa-Tallo

 Kepemimpinan Dalam Lontara' Gowa-Tallo


Oleh: Zaenuddin Endy

*Direktur Pangadereng Institut (PADI)*


Prinsip kepemimpinan dalam Lontara' Gowa-Tallo menggambarkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Makassar sejak zaman dahulu. Prinsip ini menjadi pedoman bagi para pemimpin dalam menjalankan tugasnya demi kemaslahatan rakyat dan kerajaan. Salah satu konsep utama dalam kepemimpinan ini adalah "Tallu Tongi Rupanna Panggaukang ri Se'rea Tumapparenta Angngerang Kapanrakang," yang menegaskan tiga bentuk perbuatan pemimpin yang dapat membawa kerusakan dalam pemerintahan.


Prinsip pertama yang disebutkan dalam Lontara' Gowa-Tallo adalah "Punna Addanggangmo Tumapparentaaya," yang berarti bahwa seorang pemimpin tidak boleh terlibat dalam perdagangan. Pemimpin yang terlibat dalam perdagangan berpotensi untuk mengabaikan kepentingan rakyatnya demi keuntungan pribadi. Keputusan yang diambil bisa menjadi bias karena lebih mementingkan aspek ekonomi pribadinya dibandingkan kesejahteraan rakyat.


Keterlibatan seorang pemimpin dalam perdagangan juga dapat menyebabkan konflik kepentingan. Pemimpin mungkin menggunakan kekuasaannya untuk menguntungkan bisnisnya sendiri atau kelompok tertentu, yang pada akhirnya merugikan masyarakat luas. Selain itu, kecenderungan pemimpin yang berorientasi pada keuntungan pribadi akan mengikis kepercayaan rakyat terhadap pemerintahannya.


Prinsip kedua dalam Lontara' Gowa-Tallo adalah "Punna Annarimamo Passoso' Tumapparentaaya," yang berarti seorang pemimpin tidak boleh menerima sogokan. Korupsi dalam bentuk suap adalah salah satu faktor utama yang merusak tatanan pemerintahan. Pemimpin yang menerima suap akan kehilangan objektivitas dan cenderung mengabaikan hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.


Ketika pemimpin mulai menerima sogokan, keadilan akan semakin sulit ditegakkan. Keputusan yang diambil tidak lagi berdasarkan kepentingan rakyat, tetapi lebih kepada siapa yang memberikan keuntungan lebih besar. Hal ini berakibat pada merosotnya moralitas pemerintahan serta meningkatnya ketidakadilan sosial di masyarakat.


Prinsip ketiga adalah "Punna Teyamo Annarima Pappasaile Tumapparentaaya," yang berarti pemimpin yang menolak menerima nasihat. Seorang pemimpin yang enggan mendengar masukan atau kritik akan cenderung bertindak otoriter. Ia menganggap dirinya selalu benar dan menutup diri dari pandangan yang berbeda. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan keputusan yang salah dan merugikan banyak pihak.


Sikap tidak mau menerima nasihat juga mencerminkan kurangnya kerendahan hati seorang pemimpin. Padahal, dalam sistem pemerintahan yang baik, diskusi dan pertimbangan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menghasilkan kebijakan yang bijaksana dan tepat sasaran. Pemimpin yang enggan mendengar kritik cenderung semakin jauh dari realitas masyarakat yang dipimpinnya.


Ketiga prinsip ini sangat relevan dalam konteks kepemimpinan modern. Banyak pemimpin yang gagal karena tidak mengindahkan prinsip-prinsip dasar ini. Misalnya, korupsi masih menjadi masalah utama di berbagai negara, termasuk Indonesia. Konflik kepentingan dalam dunia bisnis dan pemerintahan juga sering kali menjadi penyebab ketimpangan sosial yang semakin lebar.


Nilai-nilai dalam Lontara' Gowa-Tallo mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki integritas tinggi. Kejujuran, keadilan, dan kebijaksanaan menjadi pilar utama dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ini, seorang pemimpin akan mampu menjalankan amanah dengan baik dan membawa kemajuan bagi rakyatnya.


Selain itu, prinsip ini juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pemerintahan. Seorang pemimpin yang transparan akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari rakyatnya. Begitu juga dengan akuntabilitas, di mana setiap tindakan dan kebijakan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.


Dalam era demokrasi saat ini, prinsip-prinsip kepemimpinan dalam Lontara' Gowa-Tallo bisa menjadi inspirasi dalam membangun sistem pemerintahan yang lebih baik. Pemimpin harus senantiasa menjaga dirinya dari godaan korupsi, konflik kepentingan, dan sikap otoriter. Hanya dengan demikian, pemerintahan yang bersih dan berwibawa dapat terwujud.


Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mengawal kepemimpinan. Rakyat harus berani bersuara ketika melihat penyimpangan yang dilakukan oleh pemimpin mereka. Dengan pengawasan yang ketat dari masyarakat, pemimpin akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya dan tetap berpegang pada prinsip-prinsip kebaikan yang diajarkan dalam warisan budaya seperti Lontara' Gowa-Tallo.


Pada dasarnya bahwa prinsip kepemimpinan dalam Lontara' Gowa-Tallo memberikan pedoman yang kuat bagi para pemimpin untuk bertindak adil, jujur, dan bijaksana. Dengan menghindari perdagangan yang bisa menyebabkan konflik kepentingan, menolak sogokan yang merusak keadilan, serta membuka diri terhadap nasihat dan kritik, seorang pemimpin dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya. Prinsip-prinsip ini tetap relevan dan harus dijadikan pegangan dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas dan berorientasi pada kepentingan rakyat.


Wallahu A'lam Bissawab

Comments

Popular posts from this blog

Penguatan Harakah, Fikrah, dan Amaliyah NU

Fokus Urus Jabatan Vs Organisasi

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum: Menuju Pendidikan Islam yang Holistik