Sowan Orangtua

 EndyNU


*Sowan Orangtua*


Berangkat dari kampung Pompanua Riattang, kami sekeluarga memulai perjalanan menuju kampung halaman di Dekko Bakunge, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone. Pagi itu, suasana terasa tenang, udara segar menyelimuti perkampungan. Kami berangkat dengan hati penuh harap, ingin segera bertemu dengan ayah tercinta yang kini sudah berusia sekitar 110 tahun.


Mobil melaju pelan melewati jalanan yang sudah akrab bagi kami. Sepanjang perjalanan, pemandangan sawah yang menghijau dan pepohonan rindang menemani perjalanan kami. Beberapa desa kami lewati, setiap sudutnya menyimpan kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Setiap kali melewati tempat-tempat yang dulu sering kami singgahi, hati ini terasa hangat mengenang masa-masa itu.


Sesampainya di jalan berbatu yang mulai menandakan bahwa kampung halaman semakin dekat, kami semakin tak sabar. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Kami ingin mengobati rindu, ingin melihat wajah ayah yang semakin menua, dan ingin mendengar suaranya yang penuh kebijaksanaan.


Tiba di Dekko Bakunge, suasana desa yang tenang menyambut kami. Udara di sini terasa lebih sejuk, lebih damai. Rumah-rumah khas Bugis berdiri kokoh, dikelilingi hamparan sawah yang masih terjaga. Kami langsung menuju rumah ayah, tempat di mana kenangan dan sejarah keluarga kami tersimpan.


Saat kami sampai di depan rumah, ayah sudah duduk di teras, menatap ke kejauhan dengan tatapan yang penuh makna. Kami segera turun dari mobil, bergegas menghampirinya. Senyum beliau menyambut kami, meskipun tubuhnya semakin ringkih, tetapi pancaran kasih sayang tak pernah pudar dari wajahnya.


Kami langsung bersimpuh di hadapannya, mencium tangannya yang sudah mulai keriput. "Assalamu’alaikum, Ayah," ucap kami hampir bersamaan. Suara ayah terdengar lirih namun hangat, "Wa’alaikumsalam, anak-anakku." Ada kebahagiaan di matanya, ada rindu yang akhirnya terobati.


Kami duduk bersama di ruang tamu sederhana, berbincang dengan ayah. Beliau bercerita tentang hari-harinya, tentang masa lalu, dan tentang bagaimana beliau masih bersyukur bisa bertemu kami. Meski sudah sepuh, ingatannya masih tajam, dan nasihat-nasihatnya tetap penuh makna.


Dalam perbincangan itu, tiba-tiba saya teringat sebuah pesan dari ayah yang selalu membekas dalam ingatan. Saat itu, paman-paman saya yang menjabat sebagai kepala dusun sedang merencanakan untuk mendorong saya maju sebagai calon kepala desa. Sebuah tawaran yang tentunya membanggakan, tetapi juga penuh tanggung jawab besar.


Ayah yang mendengar rencana itu, memandang saya dengan tatapan dalam. Kemudian, dengan suara yang penuh kebijaksanaan, beliau berkata, "Ee ana' taissemmo riasengnge pemimpin. Iyaro pemimpingnge ibara'na pura manengpi manre ra'ya'e nappa weddikki manre." (Wahai anak, apakah engkau tahu yang namanya pemimpin. Yang namanya pemimpin itu ibaratnya rakyat sudah semua makan, baru pemimpin bisa makan).


Kata-kata ayah membuat saya terdiam. Saya memahami makna mendalam dari pesan itu. Menjadi pemimpin bukan sekadar sebuah jabatan, tetapi amanah besar yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Pemimpin sejati harus memastikan kesejahteraan rakyatnya sebelum memikirkan dirinya sendiri.


Akhirnya, setelah merenung dan mempertimbangkan nasihat ayah, saya memutuskan untuk tidak maju sebagai calon kepala desa. Saya merasa belum siap mengemban tanggung jawab sebesar itu, dan saya ingin tetap berada di jalur yang lebih sesuai dengan hati dan prinsip saya.


Perjalanan pulang kali ini bukan hanya sekadar perjalanan menemui ayah, tetapi juga perjalanan yang mengingatkan saya kembali akan nilai-nilai kehidupan. Ayah, dengan segala kebijaksanaannya, telah memberikan pelajaran berharga yang akan selalu saya pegang teguh sepanjang hidup.

Comments

Popular posts from this blog

Penguatan Harakah, Fikrah, dan Amaliyah NU

Fokus Urus Jabatan Vs Organisasi

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum: Menuju Pendidikan Islam yang Holistik