Toami Ramang
EndyNU
*Toami Ramang*
Di ujung senja tanah Bugis bersinar,
terdengar bisik angin yang pelan bergetar.
Menyebut nama yang tak lekang ditelan zaman,
Ramang—sang legenda, telah lama berpulang ke keabadian.
Namun di setiap lelaki yang rambutnya memutih,
yang langkahnya perlahan, namun jiwanya bersih,
tersemat satu sebutan penuh hormat dan sayang:
“Toami Ramang,” panggilan untuk mereka yang dikenang.
Bukan sekadar lelaki tua di sudut warung kopi,
mereka adalah kisah, adalah nyala api.
Menjadi Toami Ramang, bukan hanya soal usia,
tapi tentang warisan, tentang jiwa yang tak sirna.
Ramang telah pergi, tapi namanya tak mati,
hidup di dada-dada lelaki yang menyepi.
Yang matanya menatap jauh menembus waktu,
mengingat sepak bola, kampung, dan langit biru.
Toami Ramang—mereka yang membawa bayang,
dari legenda yang kini jadi bagian orang-orang.
Mereka berjalan dengan diam yang dalam,
membawa Ramang di tiap langkah yang tenang.
Sebab menjadi Toami Ramang adalah anugerah,
menjadi saksi hidup dari sejarah yang megah.
Meski tubuh melemah dan suara merendah,
semangat Ramang tetap menyala—tak pernah menyerah.
Comments
Post a Comment