Ditemani Kopi Hangat
EndyNU
Ditemani Kopi Hangat
Kala fajar perlahan menyingsing,
Langit memerah di ujung malam yang hening.
Embun masih menari di pucuk dedaunan,
Udara menggigit, menusuk tulang dan perasaan.
Kugenggam erat secangkir kopi hangat,
Uapnya menari, menyapa wajah penat.
Dalam diam, aroma menyeruak perlahan,
Membelai jiwa, membangunkan harapan.
Tubuh menggigil, dingin menjalar,
Namun kopi ini—hangatnya tak sekadar.
Ia menyalakan bara di dada yang beku,
Mengalirkan tenang, membangkitkan rindu.
Di antara sepi dan desir angin pagi,
Kopi menjadi teman sejati.
Bukan hanya pemecah sunyi,
Tapi pelipur dalam hati yang sunyi.
Saat cahaya mulai mengintip bumi,
Kopi masih setia di sisi.
Hangatnya tak hanya di telapak tangan,
Tapi di relung hati yang tengah kesepian.
Begitulah aku menyambut pagi,
Ditemani kopi, bukan sekadar tradisi.
Tapi sebuah janji,
Bahwa hari bisa dimulai dengan kopi dan puisi.
Comments
Post a Comment