Posts

Showing posts from June, 2025

Selamat Jalan Sang Penggerak NU Pangkep

  Berita wafatnya sahabat tercinta, Gus Thaha—Muh. Thaha—membawa gelombang duka yang begitu dalam ke relung hati kami. Seperti daun yang gugur perlahan di tengah angin senja, kepergian beliau menyisakan ruang hampa di antara kami yang pernah merasakan semangat dan kasihnya dalam perjuangan. Gus Thaha bukan sekadar teman, bukan pula sekadar sahabat biasa—beliau adalah dinda, saudara sejiwa yang dalam diamnya selalu menyalakan obor harapan dan gerakan. Saat kabar duka itu sampai, waktu seolah berhenti, dan air mata menjadi bahasa paling jujur yang bisa kami ucapkan. Gus Thaha adalah sosok penggerak sejati, ruh dari dinamika NU Pangkep yang tak pernah padam. Dalam diam dan santunnya, beliau menyusun langkah-langkah besar, menganyam kekuatan kolektif dari kader-kader NU yang tercerai. Bersama para kader muda jebolan PKPNU Maros dan Makassar, Gus Thaha memimpin dan menyukseskan pelaksanaan PKPNU hingga tiga angkatan. Ini bukan sekadar program, melainkan proses panjang pembentukan jiwa d...

PKB dan PKPB

Oleh:Zaenuddin Endy Koordinator Instruktur PKPNU Sulawesi Selatan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak kelahirannya mengusung semangat Nahdlatul Ulama yang menekankan pada nilai kaderisasi, perjuangan keumatan, dan keindonesiaan. PKB bukan sekadar partai politik yang hadir saat Pemilu, melainkan harus menjadi kawah candradimuka bagi kader-kader terbaik bangsa yang siap berjuang dengan akhlak dan integritas. Dalam semangat ini, PKB harus menegaskan diri sebagai organisasi kader, tempat proses pembelajaran, penggemblengan ideologis, dan penguatan nilai kebangsaan berlangsung secara konsisten dan terukur. Sayangnya, dalam realitas politik yang pragmatis, semangat kaderisasi seringkali tergeser oleh perebutan kursi kekuasaan. Politik transaksional yang berbasis pada kekuasaan jangka pendek justru mereduksi esensi partai sebagai ruang pembinaan dan pengabdian. Jika PKB ingin tetap relevan dan bermartabat, maka ia harus berani menolak godaan menjadi organisasi kursi yang hanya hadir demi ja...

Krisis Jiwa dan Harapan (6)

 Dunia ini tak butuh lebih banyak suara, tapi butuh lebih banyak kehadiran yang benar-benar hadir. Hadir yang tidak terburu-buru, yang mampu menatap mata tanpa tergesa, mendengar tanpa menyela, dan memahami tanpa menghakimi. Dunia sedang rindu pada manusia yang utuh, yang tak terpecah oleh ambisi, tak larut dalam pencitraan, dan tak kering oleh logika yang kehilangan cinta. Manusia yang tahu bahwa bahagia bukan soal memiliki, tapi memberi ruang bagi orang lain untuk merasa cukup. Yang tahu bahwa menginspirasi bukan soal berkata banyak, tapi tentang menjadi versi terbaik dari dirinya yang paling jujur. Kita hidup di zaman di mana semua orang bicara, tapi sedikit yang mendengarkan. Semua orang terlihat kuat, tapi banyak yang patah dalam diam. Maka mari perlambat langkah, dan bertanya: siapa yang hari ini bisa kita temani, bukan karena kita hebat, tapi karena kita hadir dengan hati. Sebab cahaya sejati tak pernah memaksa, ia hanya menerangi. Ia tak berteriak untuk diakui, tapi tetap m...

Krisis Jiwa dan Harapan (5)

 Dunia ini tak butuh lebih banyak suara, tapi butuh lebih banyak kehadiran yang benar-benar hadir. Hadir yang tidak terburu-buru, yang mampu menatap mata tanpa tergesa, mendengar tanpa menyela, dan memahami tanpa menghakimi. Dunia sedang rindu pada manusia yang utuh, yang tak terpecah oleh ambisi, tak larut dalam pencitraan, dan tak kering oleh logika yang kehilangan cinta. Manusia yang tahu bahwa bahagia bukan soal memiliki, tapi memberi ruang bagi orang lain untuk merasa cukup. Yang tahu bahwa menginspirasi bukan soal berkata banyak, tapi tentang menjadi versi terbaik dari dirinya yang paling jujur. Kita hidup di zaman di mana semua orang bicara, tapi sedikit yang mendengarkan. Semua orang terlihat kuat, tapi banyak yang patah dalam diam. Maka mari perlambat langkah, dan bertanya: siapa yang hari ini bisa kita temani, bukan karena kita hebat, tapi karena kita hadir dengan hati. Sebab cahaya sejati tak pernah memaksa, ia hanya menerangi. Ia tak berteriak untuk diakui, tapi tetap m...

Krisis Jiwa dan Harapan (4)

 Dunia ini tak butuh lebih banyak suara, tapi butuh lebih banyak kehadiran yang benar-benar hadir. Hadir yang tidak terburu-buru, yang mampu menatap mata tanpa tergesa, mendengar tanpa menyela, dan memahami tanpa menghakimi. Dunia sedang rindu pada manusia yang utuh, yang tak terpecah oleh ambisi, tak larut dalam pencitraan, dan tak kering oleh logika yang kehilangan cinta. Manusia yang tahu bahwa bahagia bukan soal memiliki, tapi memberi ruang bagi orang lain untuk merasa cukup. Yang tahu bahwa menginspirasi bukan soal berkata banyak, tapi tentang menjadi versi terbaik dari dirinya yang paling jujur. Kita hidup di zaman di mana semua orang bicara, tapi sedikit yang mendengarkan. Semua orang terlihat kuat, tapi banyak yang patah dalam diam. Maka mari perlambat langkah, dan bertanya: siapa yang hari ini bisa kita temani, bukan karena kita hebat, tapi karena kita hadir dengan hati. Sebab cahaya sejati tak pernah memaksa, ia hanya menerangi. Ia tak berteriak untuk diakui, tapi tetap m...

Krisis Jiwa dan Harapan (3)

 Mereka yang berjalan pelan, namun tahu ke mana arah. Yang tak silau gelar dan pujian, tapi tulus menyalakan lilin di tengah gelap peradaban. Mereka hadir sebagai cahaya, bukan hanya lampu sorot di panggung, tapi pelita kecil di sudut-sudut yang terlupakan. Kita tak kekurangan wacana, tapi kehausan akan welas asih. Tak kekurangan pemimpin, tapi merindukan teladan. Krisis ini tak bisa diselesaikan dengan algoritma, tapi dengan empati yang sederhana. Dengan pelukan yang tulus, dan diam yang mengerti. Karena dalam diam yang mengandung kasih, lebih banyak disembuhkan daripada dalam seribu nasihat tanpa jiwa. Mari kita jadi penyambung nyala, bukan hanya pembawa berita. Menjadi oase, bukan hanya pembaca statistik derita. Sebab dunia ini tak butuh lebih banyak suara, tapi butuh lebih banyak kehadiran yang benar-benar hadir.

Krisis Jiwa dan Harapan (2)

 Ia berselimut rutinitas, bersembunyi di balik layar, dan menjelma tawa yang terasa asing bagi pemiliknya sendiri. Kita bangun setiap pagi, menyapa dunia dengan tubuh yang hadir, namun jiwa tertinggal entah di mana. Krisis ini tak berdarah, namun menguras harapan sedikit demi sedikit. Tak ada alarm yang berbunyi, tapi hati terus meradang. Yang kita butuhkan bukan hanya kepintaran, tapi ketulusan yang menghidupkan. Bukan hanya kecanggihan, tapi kedalaman jiwa yang meneduhkan. Kita butuh orang-orang yang hadir sepenuhnya, yang tak hanya cerdas, tapi juga ikhlas. Yang mampu mendengar luka yang tak terucap, dan menyentuh duka yang tak terlihat. Karena dunia bisa dibangun ulang bukan oleh mereka yang hanya tahu cara, tapi oleh mereka yang tahu makna.

Krisis Jiwa dan Harapan (1)

 Krisis Jiwa dan Harapan (1)  Dunia tak kekurangan orang pintar, tapi sedang kekurangan orang yang mencerahkan  Dunia tak sedang kekurangan teknologi, tapi krisis jiwa Dan krisis ini sunyi. Terjadi di balik senyum Menyiksa tanpa suara Ia berselimut rutinitas, bersembunyi di balik layar, dan menjelma tawa yang terasa asing bagi pemiliknya sendiri. Kita bangun setiap pagi, menyapa dunia dengan tubuh yang hadir, namun jiwa tertinggal entah di mana. Krisis ini tak berdarah, namun menguras harapan sedikit demi sedikit. Tak ada alarm yang berbunyi, tapi hati terus meradang. Yang kita butuhkan bukan hanya kepintaran, tapi ketulusan yang menghidupkan. Bukan hanya kecanggihan, tapi kedalaman jiwa yang meneduhkan. Kita butuh orang-orang yang hadir sepenuhnya, yang tak hanya cerdas, tapi juga ikhlas. Yang mampu mendengar luka yang tak terucap, dan menyentuh duka yang tak terlihat. Karena dunia bisa dibangun ulang bukan oleh mereka yang hanya tahu cara, tapi oleh mereka yang tahu mak...