Krisis Jiwa dan Harapan (5)

 Dunia ini tak butuh lebih banyak suara,

tapi butuh lebih banyak kehadiran

yang benar-benar hadir.


Hadir yang tidak terburu-buru,

yang mampu menatap mata tanpa tergesa,

mendengar tanpa menyela,

dan memahami tanpa menghakimi.


Dunia sedang rindu pada manusia yang utuh,

yang tak terpecah oleh ambisi,

tak larut dalam pencitraan,

dan tak kering oleh logika yang kehilangan cinta.


Manusia yang tahu bahwa bahagia bukan soal memiliki,

tapi memberi ruang bagi orang lain untuk merasa cukup.

Yang tahu bahwa menginspirasi bukan soal berkata banyak,

tapi tentang menjadi versi terbaik dari dirinya yang paling jujur.


Kita hidup di zaman di mana semua orang bicara,

tapi sedikit yang mendengarkan.

Semua orang terlihat kuat,

tapi banyak yang patah dalam diam.


Maka mari perlambat langkah,

dan bertanya: siapa yang hari ini bisa kita temani,

bukan karena kita hebat,

tapi karena kita hadir dengan hati.


Sebab cahaya sejati tak pernah memaksa,

ia hanya menerangi.

Ia tak berteriak untuk diakui,

tapi tetap menyala, bahkan saat tak dilihat.


Dan mungkin, di tengah dunia yang sibuk menjadi terang,

tugas kita sederhana:

menjadi hangat.

Comments

Popular posts from this blog

Penguatan Harakah, Fikrah, dan Amaliyah NU

Fokus Urus Jabatan Vs Organisasi

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum: Menuju Pendidikan Islam yang Holistik