Selamat Jalan Sang Penggerak NU Pangkep
Berita wafatnya sahabat tercinta, Gus Thaha—Muh. Thaha—membawa gelombang duka yang begitu dalam ke relung hati kami. Seperti daun yang gugur perlahan di tengah angin senja, kepergian beliau menyisakan ruang hampa di antara kami yang pernah merasakan semangat dan kasihnya dalam perjuangan. Gus Thaha bukan sekadar teman, bukan pula sekadar sahabat biasa—beliau adalah dinda, saudara sejiwa yang dalam diamnya selalu menyalakan obor harapan dan gerakan. Saat kabar duka itu sampai, waktu seolah berhenti, dan air mata menjadi bahasa paling jujur yang bisa kami ucapkan.
Gus Thaha adalah sosok penggerak sejati, ruh dari dinamika NU Pangkep yang tak pernah padam. Dalam diam dan santunnya, beliau menyusun langkah-langkah besar, menganyam kekuatan kolektif dari kader-kader NU yang tercerai. Bersama para kader muda jebolan PKPNU Maros dan Makassar, Gus Thaha memimpin dan menyukseskan pelaksanaan PKPNU hingga tiga angkatan. Ini bukan sekadar program, melainkan proses panjang pembentukan jiwa dan kesadaran ke-NU-an yang tak bisa diukur hanya dengan jumlah peserta atau waktu pelaksanaan.
Perannya sebagai Koordinator PKPNU Pangkep bukan hanya soal jabatan atau tanggung jawab administratif, melainkan bentuk nyata dari komitmen dan cinta yang mendalam pada NU dan pada tanah kelahiran. Ia membawa semangat Nahdlatul Ulama dalam setiap gerakannya, menanamkan nilai-nilai tawadhu, ikhlas, dan ghiroh perjuangan di setiap kegiatan. Kami melihatnya bekerja tanpa pamrih, tak lelah menyapa kader, menata strategi, mengayomi semua dengan senyum tulus dan mata yang menyala oleh cita-cita besar.
Kini, setelah kepergiannya, kami merasa seperti kehilangan satu tiang penyangga yang selama ini menjaga keseimbangan rumah besar kami. Tapi kami tahu, warisan perjuangan Gus Thaha tidak akan padam. Api itu kini berpindah ke hati-hati kami, para sahabat dan kader yang pernah disentuh oleh ketulusan dan semangatnya. Tugas kami bukan meratapi terlalu lama, melainkan menjaga dan meneruskan apa yang telah beliau mulai. Dalam setiap forum, dalam setiap musyawarah, dalam setiap gerakan, nama Gus Thaha akan terus disebut, dikenang, dan dihidupkan.
Duka ini begitu dalam, bukan karena beliau pergi, tapi karena terlalu banyak kenangan dan kebaikan yang ia tinggalkan. Kami kehilangan seseorang yang tak tergantikan. Sosok muda yang memimpin dengan keteladanan, bukan dengan kata-kata kosong. Yang memanggil kami dengan penuh cinta, dan menyemangati dengan penuh keikhlasan. Ia adalah ruh dari gerakan ini, dan kami adalah saksi dari jejak-jejak perjuangannya yang tak akan pernah hilang oleh waktu.
Selamat jalan, Gus Thaha. Semoga Allah SWT menempatkanmu di sisi terbaik-Nya, bersama para syuhada dan orang-orang saleh. Doa kami tak akan pernah berhenti, dan perjuangan ini akan terus kami rawat sebagai bentuk cinta dan penghormatan tertinggi. Engkau telah mengajarkan kami apa arti menjadi Nahdliyin sejati—dan kini giliran kami menjaga bara itu agar tetap menyala. Terima kasih, dinda. Terima kasih, Sang Penggerak NU Pangkep.
Selamat jalan dinda sahabat. Insya Allah tenanglah di sisi-Nya.
Alfatihah
EndyNU
Comments
Post a Comment