Krisis Jiwa dan Harapan (2)
Ia berselimut rutinitas,
bersembunyi di balik layar,
dan menjelma tawa yang terasa asing bagi pemiliknya sendiri.
Kita bangun setiap pagi,
menyapa dunia dengan tubuh yang hadir,
namun jiwa tertinggal entah di mana.
Krisis ini tak berdarah,
namun menguras harapan sedikit demi sedikit.
Tak ada alarm yang berbunyi,
tapi hati terus meradang.
Yang kita butuhkan bukan hanya kepintaran,
tapi ketulusan yang menghidupkan.
Bukan hanya kecanggihan,
tapi kedalaman jiwa yang meneduhkan.
Kita butuh orang-orang yang hadir sepenuhnya,
yang tak hanya cerdas,
tapi juga ikhlas.
Yang mampu mendengar luka yang tak terucap,
dan menyentuh duka yang tak terlihat.
Karena dunia bisa dibangun ulang
bukan oleh mereka yang hanya tahu cara,
tapi oleh mereka yang tahu makna.
Comments
Post a Comment