Krisis Jiwa dan Harapan (3)
Mereka yang berjalan pelan,
namun tahu ke mana arah.
Yang tak silau gelar dan pujian,
tapi tulus menyalakan lilin di tengah gelap peradaban.
Mereka hadir sebagai cahaya,
bukan hanya lampu sorot di panggung,
tapi pelita kecil di sudut-sudut yang terlupakan.
Kita tak kekurangan wacana,
tapi kehausan akan welas asih.
Tak kekurangan pemimpin,
tapi merindukan teladan.
Krisis ini tak bisa diselesaikan dengan algoritma,
tapi dengan empati yang sederhana.
Dengan pelukan yang tulus,
dan diam yang mengerti.
Karena dalam diam yang mengandung kasih,
lebih banyak disembuhkan
daripada dalam seribu nasihat tanpa jiwa.
Mari kita jadi penyambung nyala,
bukan hanya pembawa berita.
Menjadi oase,
bukan hanya pembaca statistik derita.
Sebab dunia ini tak butuh lebih banyak suara,
tapi butuh lebih banyak kehadiran
yang benar-benar hadir.
Comments
Post a Comment