Merokok Dalam Ketauhidan

 EndyNU

Merokok, dalam kacamata awam, kerap dipandang sebatas kebiasaan biologis yang sarat risiko kesehatan. Namun, di ranah pengalaman batin sebagian santri dan pejalan ruhani, asap yang mengepul dari sebatang kretek justru menjadi medium tafakkur—pengingat betapa setiap yang berasap pasti fana, sementara Yang Mahakekal tetap tunggal. Fenomena ini menyerupai strategi “tajrîd-tajallî” dalam tasawuf: melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk rasionalitas untuk menyingkap sinyal keberadaan Allah di balik gejala yang paling sederhana dan dekat.

Tindakan menghisap rokok bisa dibaca sebagai praksis repetitif yang memunculkan ritme: menyalakan api, menarik napas, menahan, lalu melepas. Ritme ini paralel dengan zikir nafas (zikr-al-anfâs) yang diajarkan sebagian tarekat, di mana setiap tarikan dan hembusan diposisikan sebagai kalimat tauhid tersembunyi—“Hu” saat menarik, “Allah” saat melepas. Dalam perspektif psikologi transpersonal, repetisi semacam itu menempatkan otak pada gelombang alfa-teta, membuka ruang kontemplasi lebih dalam dibanding kesadaran biasa.

Secara sosiologis, rokok tradisional di pesantren kerap diproduksi sendiri, melibatkan gotong royong santri dalam menyiapkan tembakau, cengkih, dan kertas lilit. Proses kolektif ini menubuhkan nilai ukhuwwah; kretek menjadi “sakralitas profan” yang mengikat rasa setara sambil menegaskan prinsip “khidmah”—melayani sesama tanpa hirarki. Durkheim menyebutnya sebagai “effervescence collective,” momen di mana individu larut dalam solidaritas komunal, sehingga kesadaran transenden lebih mudah mengemuka.

Di sisi lain, epistemologi hadis menegaskan kaidah “la darara wa la dirar” (tidak boleh menimbulkan mudarat). Di sinilah dialektika ketauhidan menemukan etika: kesadaran transendental melalui rokok tak boleh menafikan kemaslahatan jasmani. Para kiai tradisional mengajarkan i’tidal—keseimbangan antara hak ruh dan hak tubuh—seraya menekankan ikhtiar berhenti bila kesehatan terganggu. Dengan demikian, ketauhidan via rokok bukan glorifikasi kebiasaan, melainkan upaya menempatkan setiap laku dalam koridor maslahat.

Kajian fenomenologi-hermeneutik menunjukkan bahwa makna rokok dibentuk oleh horizon pengalaman subjektif. Bagi petani tembakau, rokok adalah nafkah; bagi santri suluk, ia penanda waktu renungan malam. Di tahap ini, “intentionalitas”—kesengajaan batin—lebih menentukan nilai rohaninya ketimbang objek fisik rokok itu sendiri. Ini sejalan dengan maqâshid syariah yang melihat niat sebagai ruh amal.

Pengalaman estetik juga hadir: aroma tembakau dan bunyi bara yang membara menstimulasi memori kolektif tentang ladang, hujan, dan keringat petani. Rasa syukur atas rantai rezeki yang panjang itu menguatkan tauhid rubûbiyah—kesadaran bahwa Allah mengatur rizki melalui jaringan sebab-akibat sosial-ekologis yang amat rumit. Merokok, ketika dihayati dengan ilmu, dapat menyalakan sensus ekologis dan kepedulian pada kesejahteraan petani kecil.

Dalam kerangka neuroteologi, nikotin memicu pelepasan dopamin dan asetilkolin, bahan kimia yang meningkatkan fokus dan perasaan rileks. Jika kesadaran diarahkan pada tafakkur, lonjakan neurotransmiter itu bisa menjadi jembatan menuju hûdûr al-qalb—kehadiran hati. Ini mengonfirmasi temuan bahwa praktik meditatif sering dibantu oleh sedikit rangsangan sensoris terkontrol, meski tentu saja efek adiktif nikotin tetap menjadi ranjau etik yang harus dijinakkan dengan disiplin jiwa.

Pada akhirnya, “Merokok pun jalan ketauhidan” bukanlah fatwa universal untuk membenarkan kebiasaan, melainkan kisah epistemik tentang bagaimana manusia mukmin memaknai realitas paling banal sebagai ayat-ayat Allah. Ketika asap terakhir lenyap di udara, tersisalah wangi samar dan keinsafan: segala yang berasap akan sirna, kecuali Wajah-Nya yang kekal. Kesadaran inilah yang menjadi inti tauhid, terlepas apakah disulut oleh bara rokok atau bara cinta yang lebih suci.



Comments

Popular posts from this blog

Penguatan Harakah, Fikrah, dan Amaliyah NU

Fokus Urus Jabatan Vs Organisasi

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum: Menuju Pendidikan Islam yang Holistik