Posts

Nahdlatul Ulama: Jejak Suci Para Wali dan Ulama

  Nahdlatul Ulama (NU) lahir bukan sekadar sebagai organisasi sosial-keagamaan, melainkan sebagai mata rantai suci dari perjalanan para wali dan ulama Nusantara yang telah menanamkan Islam dengan penuh kelembutan, kearifan, dan kebijaksanaan. Dalam sejarahnya, NU merepresentasikan kelanjutan estafet perjuangan para wali songo, yang menggabungkan dakwah Islam dengan budaya lokal, sehingga Islam hadir sebagai rahmat, bukan ancaman. Kesucian NU tampak dari niat awal para pendirinya, yakni menjaga agama, umat, dan bangsa dalam bingkai ahlussunnah wal jama’ah. NU adalah wadah yang menampung denyut nadi spiritual para ulama, bukan sekadar forum organisasi. Para pendirinya seperti Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan KH. Bisri Syansuri adalah tokoh-tokoh yang menempatkan ilmu, ibadah, dan akhlak sebagai dasar utama perjuangan. Mereka bukan sekadar pemikir politik, tetapi juga pewaris sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Maka, setiap langkah yang dite...

Kemiskinan: Bukan Sekadar Angka, Tapi Pilihan Sosial

  Oleh: Zaenuddin Endy Akademisi UIN Alauddin Makassar, Direktur Pangadereng Institut (PADI)  Setiap awal tahun, kita disuguhi statistik: garis kemiskinan, indeks Gini, angka pengangguran terbuka, dan rasio ketimpangan. Seolah-olah kemiskinan adalah sekadar gejala yang bisa diredam dengan pendekatan teknokratis dan laporan indikator. Namun di balik deretan angka itu, ada realitas yang jauh lebih kompleks: kemiskinan bukan sekadar soal pendapatan yang rendah, melainkan cerminan dari tatanan sosial yang tidak adil. Ia bukan sekadar takdir ekonomi, tetapi produk dari pilihan sosial dan politik yang kita buat sebagai bangsa. Kemiskinan tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk oleh struktur distribusi sumber daya yang timpang, kebijakan publik yang bias kelas, dan sistem sosial yang sering kali menormalisasi ketidakadilan. Amartya Sen, ekonom dan filsuf penerima Nobel, menyebut bahwa kemiskinan adalah "ketiadaan kapabilitas" — yaitu ketidakmampuan seseorang untuk menjalani hidup ya...

Zikir, Pikir, dan Amal Saleh

 Motto “Zikir, Pikir, dan Amal Saleh” yang diusung oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bukan sekadar semboyan biasa, melainkan merupakan fondasi ideologis dan spiritual yang membentuk karakter kader dan alumninya. Ketiga unsur dalam motto tersebut adalah satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Zikir menjadi dasar spiritualitas, pikir menjadi manifestasi intelektualitas, dan amal saleh menjadi pengejawantahan dalam tindakan nyata. Tanpa salah satu dari unsur ini, keseimbangan hidup sebagai insan PMII akan timpang. Zikir melambangkan kedekatan kader PMII dengan Allah SWT. Ia merupakan bentuk kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap detak kehidupan. Dengan zikir, hati menjadi tenang, jiwa menjadi tenteram, dan orientasi hidup senantiasa terjaga pada nilai-nilai ilahiah. Namun, zikir saja tanpa pikir, dapat menjadikan seseorang terjebak dalam ritualisme tanpa pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, zikir harus terus dipadukan dengan pikir, agar ...

Iran Vs Israel: Geopolitik dan Keislaman

  Konflik antara Iran dan Israel telah lama menjadi episentrum ketegangan di kawasan Timur Tengah, dan secara lebih luas, menjadi simbol dari pertarungan ideologis dan geopolitik yang lebih besar di dunia. Bukan sekadar konflik antarnegara, pertentangan ini mencerminkan perbedaan pandangan mengenai tatanan dunia, masa depan kawasan, dan nilai-nilai keislaman dalam konteks modernitas dan dominasi global. Iran, dengan ideologi Revolusi Islam-nya, melihat dirinya sebagai pelindung kaum tertindas dan oposisi terhadap imperialisme, sementara Israel dianggap sebagai perpanjangan dari hegemoni Barat yang memperkuat dominasi di kawasan Timur Tengah. Dalam narasi Iran, perlawanan terhadap Israel bukan hanya karena persoalan Palestina, tetapi juga karena Israel dipandang sebagai simbol dari kezaliman global. Retorika Ayatollah Khomeini sejak Revolusi 1979 menegaskan bahwa membela Palestina adalah kewajiban keagamaan dan politik. Iran memosisikan dirinya dalam barisan perlawanan (muqawamah) b...

Rekonfigurasi Peta Politik dan Ideologi Timur Tengah

Dalam dua dekade terakhir, kawasan Timur Tengah mengalami dinamika politik dan ideologi yang sangat fluktuatif, bahkan sering kali berada dalam titik krisis. Faktor internal seperti fragmentasi sektarian, ketimpangan sosial-ekonomi, serta otoritarianisme politik berpadu dengan faktor eksternal berupa intervensi kekuatan global. Keadaan ini mendorong terjadinya rekonfigurasi peta politik dan ideologi yang tidak hanya mengguncang stabilitas negara-negara di kawasan tersebut, tetapi juga membentuk ulang aliansi geopolitik dan orientasi ideologis yang sebelumnya mapan. Perang Irak 2003 yang dipimpin oleh Amerika Serikat menjadi pemicu awal tergesernya poros kekuatan tradisional di Timur Tengah. Runtuhnya rezim Saddam Hussein tidak hanya mengubah struktur politik Irak, tetapi juga membuka ruang bagi aktor-aktor non-negara, terutama milisi Syiah yang didukung Iran, untuk memainkan peran strategis dalam politik regional. Dari sinilah muncul istilah "Bulan Sabit Syiah", menggambarkan...

Selamat Jalan Sang Penggerak NU Pangkep

  Berita wafatnya sahabat tercinta, Gus Thaha—Muh. Thaha—membawa gelombang duka yang begitu dalam ke relung hati kami. Seperti daun yang gugur perlahan di tengah angin senja, kepergian beliau menyisakan ruang hampa di antara kami yang pernah merasakan semangat dan kasihnya dalam perjuangan. Gus Thaha bukan sekadar teman, bukan pula sekadar sahabat biasa—beliau adalah dinda, saudara sejiwa yang dalam diamnya selalu menyalakan obor harapan dan gerakan. Saat kabar duka itu sampai, waktu seolah berhenti, dan air mata menjadi bahasa paling jujur yang bisa kami ucapkan. Gus Thaha adalah sosok penggerak sejati, ruh dari dinamika NU Pangkep yang tak pernah padam. Dalam diam dan santunnya, beliau menyusun langkah-langkah besar, menganyam kekuatan kolektif dari kader-kader NU yang tercerai. Bersama para kader muda jebolan PKPNU Maros dan Makassar, Gus Thaha memimpin dan menyukseskan pelaksanaan PKPNU hingga tiga angkatan. Ini bukan sekadar program, melainkan proses panjang pembentukan jiwa d...

PKB dan PKPB

Oleh:Zaenuddin Endy Koordinator Instruktur PKPNU Sulawesi Selatan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sejak kelahirannya mengusung semangat Nahdlatul Ulama yang menekankan pada nilai kaderisasi, perjuangan keumatan, dan keindonesiaan. PKB bukan sekadar partai politik yang hadir saat Pemilu, melainkan harus menjadi kawah candradimuka bagi kader-kader terbaik bangsa yang siap berjuang dengan akhlak dan integritas. Dalam semangat ini, PKB harus menegaskan diri sebagai organisasi kader, tempat proses pembelajaran, penggemblengan ideologis, dan penguatan nilai kebangsaan berlangsung secara konsisten dan terukur. Sayangnya, dalam realitas politik yang pragmatis, semangat kaderisasi seringkali tergeser oleh perebutan kursi kekuasaan. Politik transaksional yang berbasis pada kekuasaan jangka pendek justru mereduksi esensi partai sebagai ruang pembinaan dan pengabdian. Jika PKB ingin tetap relevan dan bermartabat, maka ia harus berani menolak godaan menjadi organisasi kursi yang hanya hadir demi ja...